![]()
Absherharamain.id – Memahami setiap rukun dan wajib haji memang penting karena berkaitan dengan sah tidaknya ibadah haji seseorang. Namun, terlalu fokus pada hal teknis membuat perjalanan ini hanya sekedar menjadi ritual fisik semata.
Padahal, dengan memahami esensi setiap rangkaian melalui sejarah haji bisa menjadikan setiap prosesi haji menjadi lebih khusyu’. Wawasan ini mengubah pandangan yang awalnya hanya penggugur kewajiban menjadi sebuah pengalaman spiritual yang bermakna.
Baca Juga: Wajib Tahu! Ini 9 Hikmah Haji Bagi Kehidupan Manusia
Sejarah Haji dari Masa ke Masa
Menelusuri sejarah haji dari masa ke masa membantu setiap hamba memahami bagaimana ibadah ini bermula hingga menjadi seperti sekarang. Berikut adalah penjelasan lengkapnya.
1. Awal Mula Penciptaan Ka’bah

Akar sejarah haji bermula di langit saat para malaikat melakukan thawaf mengelilingi Baitul Ma’mur sebagai bentuk ketaatan pada Allah. Kemudian Nabi Adam membangun Ka’bah di bumi bersama putranya, Syit, sebagai replika dari tempat ibadah malaikat tersebut.
Pembangunan ini menandai dimulainya thawaf sebagai bentuk ibadah tertua umat manusia di muka bumi. Selama berabad-abad, bangunan suci ini berdiri kokoh dan berfungsi menjadi pusat ajaran tauhid bagi seluruh keturunan awal manusia.
Namun, bangunan awal ini runtuh dan tersapu air saat terjadi bencana banjir besar pada masa Nabi Nuh. Lokasi aslinya sempat hilang tertimbun tanah hingga ribuan tahun dan hanya menyisakan gundukan serupa bukit kecil di lembah gersang.
Hampir seluruh nabi setelahnya tetap melaksanakan thawaf saat melewati lembah Makkah, termasuk Nabi Musa. Pengecualian hanya ada pada Nabi Hud dan Nabi Shaleh yang saat itu fokus berdakwah kepada kaum Ad serta Tsamud.
2. Awal Mula Syariat Haji Nabi Ibrahim
Fase ini merupakan titik awal syariat haji yang dikenal hingga saat ini dalam sejarah haji.
Ribuan tahun setelah banjir, Nabi Ibrahim membawa Hajar dan Ismail yang masih bayi ke lembah Makkah. Saat itu, lokasi tersebut hanyalah lembah mati tanpa air, pohon, maupun tanda kehidupan manusia.
Saat bekal mulai habis, Hajar berlari 7 kali antara Safa dan Marwah untuk mencari air. Allah kemudian mengutus Malaikat Jibril untuk memunculkan mata air tepat di dekat kaki Ismail. Kemudian Hajar membendung air tersebut agar tidak hilang terserap pasir sambil berucap “Zamzam” yang berarti berkumpullah. Prosesi ini menjadi awal mula prosesi sa’i.
Keberadaan mata air ini menarik perhatian Suku Jurhum dari Yaman yang sedang menuju Syam. Kemudian, mereka meminta izin kepada Hajar untuk menetap disana. Kehadiran Jurhum mengubah lembah mati menjadi pemukiman. Mereka membawa ternak dan sistem perdagangan. Nabi Ismail tumbuh besar di lingkungan suku ini, belajar bahasa Arab dari mereka, bahkan menikah dengan wanita dari suku Jurhum.
Setelah Ismail dewasa, Nabi Ibrahim kembali untuk menjalankan perintah membangun kembali rumah Allah di atas pondasi lama. Ismail membantu mengangkut batu sementara Nabi Ibrahim menyusunnya. Saat bangunan meninggi, Ibrahim menggunakan batu besar sebagai pijakan agar bisa menjangkau bagian atas. Batu ini melunak dan meninggalkan bekas kaki beliau yang saat ini disebut maqam Ibrahim.
Setelah selesai, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk melaksanakan haji. Malaikat Jibril kemudian membimbing Nabi Ibrahim ke Padang Arafah untuk mengajarkan tata cara haji secara detail. Nama Arafah sendiri berasal dari dialog antara keduanya mengenai pemahaman manasik yang telah diajarkan. Bagi Nabi Ibrahim, wukuf di Arafah adalah momen perenungan dan puncak kepasrahan kepada Allah sebelum menyembelih Ismail.
Dari Arafah, beliau melanjutkan perjalanan ke Mina untuk melakukan prosesi penyembelihan. Namun saat di perjalanan iblis muncul di tiga tempat untuk membisiki Nabi Ibrahim agar membatalkan perintah Allah. Nabi Ibrahim melawan godaan tersebut dengan melempar tujuh batu kecil di setiap titiknya. Peristiwa ini menjadi awal mula perintah melempar jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah.
Sesampainya di Mina, beliau bersiap untuk menyembelih Ismail. Namun kemudian Allah mengganti Ismail dengan seekor domba besar dari surga. Momen inilah yang menjadi dasar syariat kurban bagi seluruh umat muslim yang menjalankan ibadah di tanah suci.
Setelah semua selesai, Nabi Ibrahim menyeru seluruh ruh manusia di dunia untuk datang berhaji melaksanakan thawaf dan sa’i.
3. Masa Jahiliyyah Pra Islam

Setelah Nabi Ibrahim dan Ismail wafat, kepemimpinan Makkah beralih ke Suku Jurhum sebelum akhirnya direbut oleh Suku Khuza’ah. Di bawah kepemimpinan Amr bin Luhay, ajaran tauhid yang murni dalam sejarah haji mulai menyimpang. Ia membawa berhala dari Syam dan meletakkannya di sekitar Ka’bah, yang memicu munculnya praktik syirik.
Penyimpangan ini diperparah dengan aturan diskriminatif dari kaum Quraisy yang menyebut kelompok mereka sebagai Al-Hums. Mereka dengan sombong menolak wukuf di Arafah karena lokasi tersebut dianggap di luar batas suci tanah haram. Kelompok ini hanya mau wukuf di Muzdalifah karena merasa derajat mereka lebih tinggi dibandingkan jamaah lainnya.
Kekacauan juga merambah pada tata cara berpakaian saat melaksanakan thawaf di sekitar Ka’bah. Kaum Quraisy mengklaim bahwa hanya pakaian yang dibeli dari kelompok mereka yang layak dan suci untuk digunakan berthawaf.
Jamaah dari luar Makkah yang tidak mampu membeli pakaian baru terpaksa melakukan thawaf tanpa busana. Mereka menganggap pakaian lama yang dibawa dari rumah sudah ternoda oleh dosa sehingga tidak layak dipakai di beribadah.
4. Masa Awal Kebangkitan Tauhid

Nabi Muhammad lahir saat kondisi Makkah sedang berada di puncak penyimpangan dengan 360 berhala yang mengelilingi Ka’bah. Beberapa di antaranya adalah Latta, Uzza, Manah, dan Hubal. Kala itu, fungsi Ka’bah sebagai tempat ibadah kepada Allah melainkan menjadi pusat penyimpanan berhala.
Meskipun tumbuh di lingkungan tersebut, beliau tidak pernah sekalipun mengikuti praktik penyembahan berhala yang dilakukan penduduk setempat. Keteguhan ini menjadi awal kembalinya kemurnian sejarah haji yang selama berabad-abad tertutup oleh kesyirikan.
Sebelum peristiwa hijrah ke Madinah, Rasulullah tetap melaksanakan ibadah haji dan umrah. Namun beliau memilih untuk tetap mengikuti ajaran Nabi Ibrahim yang lurus. Salah satunya adalah tetap melakukan wukuf di Arafah.
5. Fathul Makkah dan Haji Wada Rasulullah

Setelah hijrah ke Madinah, umat Islam belum bisa menyentuh Ka’bah karena Makkah masih berada di bawah kekuasaan kaum musyrik. Fokus utama Rasulullah saat itu adalah membangun pondasi masyarakat dan menghadapi berbagai perang besar seperti badr, uhud, khandaq.
Tahun 6 H, Rasulullah berangkat bersama 1.400 sahabat setelah bermimpi melakukan thawaf di Baitullah. Namun, perjalanan ini tertahan di Hudaibiyah hingga lahir perjanjian Hudaibiyyah yang mengharuskan rombongan pulang tanpa umrah. Kesepakatan tersebut baru mengizinkan umat Islam kembali ke Makkah tahun depan.
Sesuai perjanjian, Rasulullah dan para sahabat melaksanakan umrah pengganti (qadha) di tahun 7 H. Puncak perubahan terjadi pada tahun 8 H saat peristiwa Fathul Makkah. Rasulullah menghancurkan seluruh berhala yang mengelilingi Ka’bah dan mengembalikan fungsi bangunan tersebut sebagai pusat peribadatan.
Kewajiban haji resmi turun pada tahun 9 H melalui surat Ali Imran ayat 97. Saat itu, Rasulullah mengutus Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai pemimpin jamaah sementara beliau tetap di Madinah untuk menyambut kabilah-kabilah baru.
Kemudian beliau mengutus Ali bin Abi Thalib menyusul, untuk membacakan Surah at-Taubah di depan jamaah haji yang isinya larangan kepada kaum musyrik untuk berhaji dan larangan thawaf telanjang.
Setelah Makkah bersih dari praktik jahiliyah, Rasulullah mengumumkan akan berangkat haji di tahun 10 H, Rasulullah memimpin lebih dari 100.000 orang. Beliau mempraktikkan detail urutan haji mulai dari niat di Miqat, wukuf di Arafah, hingga lempar jumrah dan berkata “Ambillah dariku tata cara manasik kalian.”
Saat wukuf di Arafah, beliau menyampaikan pesan kemanusiaan mengenai kesetaraan derajat manusia dan larangan riba. Dan di tengah prosesi haji inilah turun ayat terakhir: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu…” (Al-Ma’idah: 3).
Tiga bulan setelahnya, Rasulullah SAW wafat, dan haji tersebut menjadi haji wada beliau.
Baca Juga: Bagaimana Tata Cara Ibadah Haji Yang Benar Sesuai Syariat?
Maksimalkan Prosesi Ibadah Haji Bersama Absher Haramain
Setelah memahami detail sejarah haji mulai dari Nabi Adam hingga Nabi Muhammad, diharapkan calon jamaah haji bisa lebih khusyu saat melakukan semua rangkaian ibadah. Jadi perjalanan ibadah haji bukan hanya sekedar ibadah fisik tanpa memahami makna di setiap prosesinya.
Namun seringkali jamaah kurang khusyu’ karena kendala teknis lapangan yang mengganggu kenyamanan mereka selama beribadah. Jika ingin memberikan pelayanan terbaik kepada para tamu Allah, Layanan Land Arrangement dari Absher Haramain hadir sebagai solusi One Stop Service. Paket lengkap ini mencakup handling, visa, hingga muthawwif dalam satu sistem yang efisien.
