![]()
Absherharamain.id –Perbedaan pendapat terkait lokasi ihram seringkali membuat para jamaah bingung. Kebingungan memilih antara niat di atas pesawat atau saat mendarat berisiko membuat seseorang melewati batas miqat haji. Jika batas ini terlewati, maka ibadah bisa tidak sah dan membayar denda.
Simak penjelasan lebih lanjut tentang miqat haji di bawah ini!
Baca Juga: Doa Agar Bisa Berangkat Haji dan Umroh Secepatnya!
Apa Itu Miqat Haji?
Secara bahasa, kata miqat berasal dari istilah Arab awqata – yuqitu. Kata ini memiliki arti menetapkan waktu atau menentukan sebuah batas. Akar katanya adalah wa-qa-ta, yang berhubungan erat dengan waktu. Jadi, secara bahasa miqat bermakna waktu atau tempat yang telah ditetapkan bagi seseorang.
Secara istilah fikih, miqat adalah batas waktu dan tempat untuk memulai niat ihram. Rasulullah SAW menetapkan titik ini sebagai pintu masuk bagi jamaah haji atau umroh. Setiap orang yang melewati batas tersebut sudah wajib dalam keadaan berihram.
Jenis-Jenis Miqat Haji
Aturan mengenai miqat haji ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu waktu dan tempat. Keduanya menjadi patokan resmi bagi jamaah untuk memulai niat ihram sesuai ketentuan syariat. Berikut adalah penjelasan detail mengenai kedua jenis batas tersebut.
1. Miqat Zamani

Miqat zamani adalah batas waktu yang menentukan kapan seseorang boleh mulai berniat untuk melaksanakan ibadah haji. Dalam syariat Islam, periode ini hanya berlangsung selama beberapa bulan tertentu dalam kalender Hijriah.
Tanpa mengikuti ketentuan waktu ini, niat haji seseorang dianggap tidak sah. Sebab miqat zamani ini menjadi pembeda utama antara haji dan umroh.
Pelaksanaan miqat haji secara resmi dimulai sejak 1 Syawal hingga terbit fajar pada 10 Zulhijah. Meskipun ada pendapat soal niat sebelum Syawal, waktu terbaik tetap mengikuti bulan-bulan haji yang sudah ditetapkan.
Ketetapan tanggal ini memastikan seluruh jamaah dari berbagai negara berkumpul pada waktu yang bersamaan.
Berbeda dengan aturan pada haji, miqat zamani untuk umroh berlaku sepanjang tahun tanpa terikat bulan tertentu. Jamaah bebas menentukan waktu keberangkatan kapan saja sesuai keinginan dan ketersediaan kuota dari pemerintah Arab Saudi.
Fleksibilitas ini memudahkan siapa saja untuk berkunjung ke Baitullah tanpa harus menunggu musim haji tiba. Meski waktunya bebas, aturan mengenai tempat pengambilan niat tetap harus mengikuti ketentuan yang sudah ada.
2. Miqat Makani

Miqat makani adalah batas tempat yang menentukan seseorang untuk berniat dan memakai pakaian ihram. Ketentuan lima lokasi ini ditetapkan langsung oleh Nabi Muhammad berdasarkan rute kedatangan para jamaah.
Pembagian tersebut mengikuti arah mata angin agar setiap orang dari berbagai wilayah memiliki titik awal. Hal ini memudahkan pengaturan alur perjalanan menuju Makkah bagi jamaah dari seluruh dunia.
Setiap lokasi miqat haji ini sudah mencakup seluruh rute perjalanan, baik jalur darat, laut, maupun udara. Berikut adalah rincian lima lokasi utama dan asal wilayah jamaahnya:
- Bir Ali atau Dzulhulaifah
Lokasi ini terletak sekitar 450 kilometer di luar kota Makkah dan menjadi titik terjauh. Bir Ali merupakan tempat niat bagi jamaah yang berangkat setelah singgah di Madinah. Bagi jamaah Indonesia gelombang pertama, tempat ini adalah pos utama sebelum menuju Baitullah.
- Al-Juhfah
Titik ini berada di arah barat laut Makkah dengan jarak sekitar 183 kilometer. Al-Juhfah menjadi rujukan bagi jamaah yang datang dari arah Mesir, Suriah, dan negara-negara Afrika. Karena lokasinya yang strategis, wilayah ini sering dilewati oleh jamaah yang menempuh jalur darat utara.
- Qarnul Manazil
Dikenal juga dengan nama As-Sailul Kabir, letaknya sekitar 94 kilometer di sebelah timur Makkah. Lokasi ini menjadi batas bagi jamaah yang datang dari arah Riyadh, Kuwait, dan wilayah Najd. Jalurnya yang landai membuatnya mudah diakses oleh kendaraan pribadi maupun bus antar kota. Titik ini juga sering menjadi acuan bagi penerbangan dari arah timur.
- Yalamlam
Titik ini berada di arah selatan Makkah dengan jarak kurang lebih 92 kilometer. Yalamlam adalah lokasi niat bagi jamaah dari arah Yaman serta sebagian besar wilayah Asia. Jamaah Indonesia yang terbang langsung menuju Jeddah biasanya akan melewati koordinat udara titik ini.
- Zatul Irqin
Lokasi ini terletak di arah timur laut Makkah dengan jarak tempuh sekitar 94 kilometer. Zatul Irqin ditetapkan sebagai batas bagi jamaah yang datang dari arah Irak dan sekitarnya.
Bagi penumpang pesawat, pengambilan niat ihram bisa dilakukan saat posisi terbang sejajar dengan salah satu titik tersebut. Melewati miqat makani tanpa disertai niat akan berakibat pada kewajiban membayar denda. Hal inilah yang mendasari pentingnya mengetahui rute penerbangan atau jalur darat yang ditempuh.
Ketentuan Miqat Makani Jamaah Haji Indonesia
Penentuan lokasi niat bagi jamaah asal Indonesia dibagi menjadi dua skema berdasarkan rute penerbangan yang ditempuh. Perbedaan ini bertujuan untuk memudahkan prosesi ibadah tanpa mengabaikan batas wilayah yang telah ditetapkan oleh syariat. Berikut adalah lokasi miqat haji sesuai dengan gelombang keberangkatan jamaah.
- Jamaah Gelombang I (Via Madinah)
Bagi jamaah yang mendarat di Madinah, lokasi miqat haji yang digunakan adalah Bir Ali atau Dzulhulaifah. Jamaah akan berangkat dari hotel di Madinah menuju Makkah dengan bus dan berhenti sejenak di masjid Bir Ali. Di sinilah seluruh jamaah melakukan mandi sunnah, berganti kain ihram, dan mengucapkan niat secara bersama-sama.
- Jamaah Gelombang II (Via Jeddah)
Jamaah yang terbang langsung menuju Jeddah memiliki dua pilihan miqat haji sesuai rute penerbangan. Mayoritas akan mengambil niat saat pesawat berada di atas koordinat Yalamlam atau Qarnul Manazil. Namun jika ada kendala teknis di pesawat, Fatwa MUI 28 Maret 1980 membolehkan niat di Bandara King Abdul Aziz Jeddah. Meski demikian, mengambil ihram di atas pesawat lebih diutamakan.
Hal yang Harus Diperhatikan saat Miqat
Setelah menentukan lokasi niat, ada beberapa hal teknis yang wajib dilakukan agar prosesi ini berjalan sempurna. Berikut adalah beberapa hal penting yang harus dipersiapkan sebelum mencapai batas tersebut.
- Pastikan pakaian ihram sudah dikenakan dengan benar sebelum posisi bus atau pesawat mencapai titik koordinat.
- Segera ucapkan niat begitu ada instruksi dari pemandu agar batas wilayah tidak terlewati secara tidak sengaja.
- Seluruh larangan ihram mulai berlaku sejak niat diucapkan sehingga jamaah harus menjaga sikap.
- Kondisi kesucian diri atau wudhu sebaiknya sudah disiapkan sejak awal agar proses pengambilan niat lebih lancar.
Baca Juga: Jangan Keliru! Ini 7 Perbedaan Umroh dan Haji
Maksimalkan Persiapan Haji Bersama Absher Haramain
Ibadah haji dan umroh harus dimulai pada waktu serta tempat yang sudah diatur dalam syariat. Jamaah wajib berniat di titik miqat haji yang sesuai dengan rute perjalanannya, baik lewat darat maupun udara. Kesalahan dalam menentukan lokasi atau waktu niat bisa berdampak pada keabsahan ibadah dan kewajiban membayar denda.
Mengurus logistik saat tiba di Tanah Suci sering kali menyita waktu dan tenaga yang seharusnya bisa digunakan untuk fokus beribadah.
Jika Anda ingin perjalanan yang lebih praktis tanpa harus dipusingkan dengan urusan bandara, koper, hingga antrean hotel, Absher Haramain siap membantu melalui Layanan Handling.
Kami akan mendampingi sejak kedatangan sampai kepulangan, termasuk mengatur agenda ziarah dan city tour agar waktu Anda di Makkah dan Madinah menjadi lebih bermakna.
Mari buat perjalanan ibadah Anda lebih nyaman dan tenang dengan penanganan profesional di setiap langkahnya!